| INTERQQ |
AGEN POKER Demam Pancasila sedang dirasakan oleh beberapa elemen bangsa. Demam Pancasila ini terjadi ketika mulai merebak isu sekolompok orang yang hendak menggantikan Pancasila ditengah konflik horizontal yang sedang terjadi.
Hal ini mulai dirasakan oleh golongan pemuda yang pernah tergabung dalam organisasi mahasiswa dari berbagai latar belakang agama berbeda.
DEWA POKER Menurut mantan Ketua Pimpinan Pusat GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) sangat disayangkan karena masyarakat baru sibuk berbicara Pancasila ketika ideologi itu mulai terancam.
“Soal Pancasila saya aneh saat gesekan horizontal belakang ini, kita malah latah rame-rame ngomongin Pancasila sebagai ideologi bangsa,” kata Twedy Noviady Ginting dalam diskusi bertemakan “Orang Muda Bicara Pancasila” di Sekretariat Yayasan Komunikasi Indonesia pada Selasa (6/6).
Menurut Twedy hal ini bisa terjadi lantaran saat ini Pancasila hanya digunakan sebagai alat pemersatu bangsa, bukan sebagai wadah pemersatu bangsa.
POKER ONLINE “Saya tidak setuju alat pemersatu karena ketika bersatu nanti tidak berlaku lagi yang diperlukan ialah Pancasila sebagai wadah pemersatu kita, wadah yang mengumpulkan perbedaan rakyat Indonesia,” jelas pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat GMNI pada 2011-2015 ini.
Pancasila Harus Diopersionalkan dalam Kebijakan Negara Maka dari itu yang terpenting kata Twedy saat ini negara harus bisa mengoperasionalkan Pancasila kedalam kehidupan berbangsa.
JUDI POKER Menurutnya salah satu penyebab Pancasila tergoyahkan ialah karena belum dibumikannya Pancasila kedalam kehidupan berbangsa dan bernegara salah satunya saja kedalam implementasi kebijakan negara.
“Tapi pertanyaannya kali ini apakah UU yang dibuat DPR RI sudah berdasar nilai-nilai Pancasila,” kata Twedy meragukan.
Ia melanjutkan bukti belumnya Pancasila dioperasionalkan dalam kebijakan negara ialah masih banyaknya kebijakan yang sifatnya neolib, kapitalis dan liberalis.
Hal ini lah menurutnya yang membuat Pancasila belum bisa menyejahterakan bangsa.
POKER88 “Bayangkan jika bangunan Pancasila tapi penerapannya ideologi lain, ya konslet,” jelas Twedy.Jangan Ulangi Cara Orba Maka ia berpesan kedepannya jika Pemerintah kembali ingin menghidupkan Pancasila ditengah masyarakat maka jangan mengulangi kesalahan Orde Baru.
Dimana Pancasila hanya digunakan sebagai kiasan untuk masyarakat. Menurutnya sebelum Pancasila dijadikan etos bagi warga, Pancasila juga harus digunakan sebagai etos penyelenggara negara.
“Jangan ulangi ketika era Soeharto, rakyat suruh belajar P4 tapi perilaku penyelenggara negara tidak mengilhami Pancasila, itu akhirnya rakyat berontak, kita tidak mau ulangi kesalahan itu,” kata Twedy berharap.
Sekelompok pemuda lainnya yang hadir dalam acara tersebut juga mengamini apa yang disebutkan Twedy.
Sekelompok pemuda ini terdiri dari berbagai elemen organsisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung Plus.
Addin Jauharudin (Ketum PB PMII 2011-2014), Noer Fajriansyah (Ketum PB HMI 2010-2012), I Made Bawa Yasa (Presidium Pusat KMHDI 2012-2014),Lidya Natalia Sartono (Ketum PP PMKRI 2013-2015), Ayub Manuel Pongrekun (Ketum PP GMKI 2014-2016, Andriyana (Ketum PP KAMMI 2013-2015), Suparjo (Ketum PP HIKMAHBUDHI 2014-2016) dan Jihadul Mubarok (Ketum DPP IMM 2012-2014) juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar